Selasa, 31 Januari 2023

Menyebarkan Pemahaman dan Pengalaman Penerapan Budaya Positif

 


Menyebarkan Pemahaman dan Pengalaman Penerapan Budaya Positif


Latar Belakang

Seringkali saya mendeskripsikan bahwa kedisiplinan adalah suatu keadaan dimana murid saya berperilaku tertib dan teratur sesuai dengan keinginan saya pribadi. Sehingga sikap atau keadaan disiplin yang dimunculkan murid saya ternyata masih hanya sebatas kulit ari saja. Artinya keadaan menjadi tertib ketika ada saya dan begitu sebaliknya.

Berdasarkan modul 1.4, ternyata yang saya terapkan tentang mendisiplinkan murid dengan model demikian masih belum sesuai dengan arti kata disiplin yang sebenanrnya.

Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal.

Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.

Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.

Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Berangkat dari itu semua, maka saya merancang Aksi Nyata untuk dapat mewujudkan Budaya Positif yang saya beri judul Program Kebajikan Disiplin Diri Bermotivasi Internal

Tujuan Budaya Positif

Menumbuhkan dan memupuk disiplin positif yang tumbuh dari dalam diri murid sehingga perasaan merdeka dalam belajar di lingkungan sekolah dapat hadir dengan sendirinya.

Konsep-Konsep Utama dalam materi Budaya Positif

1. Perubahan Paradigma Belajar

2. Disiplin Positif

3. Motivasi Tindakan Manusia

4. 5 Kebutuhan Dasar Manusia

5. Posisi Kontrol Restitusi

6. Keyakinan Kelas

7. Segitiga Restitusi

Keterangan:

1. Perubahan Paradigma Belajar

Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma stimulus-respon kepada pendekatan teori kontrol 

Pembelajaran dengan Paradigma Baru Dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang berdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dari tahap perkembangannya untuk mewujudkan Pelajar Profil Pancasila

2. Disiplin Positif

Menurut KHD dan Diane Gossen, Disiplin Positif merupakan bentuk kontrol diri (yang berarti motivasinya bersifat internal) untuk mencapai TUJUAN MULIA yang dianut seseorang. TUJUAN MULIA mengacu pada nilai Kebajikan Universal.

nilai-nilai kebajikan universal yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia yang kita kenal dengan Profil Pelajar Pancasila. Nilai Kebajikan Universal = nilai-nilai kebajikan yang disepakati bersama, lepas dari suku bangsa, agama, bahasa maupun latar belakangnya. Nilai-nilai ini merupakan ‘payung besar’ dari sikap dan perilaku kita, atau nilai-nilai ini merupakan fondasi kita berperilaku

3. Motivasi Tindakan Manusia

a. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman/Motivasi Eksternal

b. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain/Motivasi Eksternal

c. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya/ Motivasi Internal

4. Lima Kebutuhan Dasar Manusia

a. Kebutuhan Untuk bertahan hidup

b. Kebutuhan Kasih Sayang dan Rasa Diterima

c. Kebutuhan Penguasaan

d. Kebutuhan Kesenangan

e. Kebutuhan Kebebasan

Semua tindakan yang dilakukan manusia memiliki tujuan tertentu. Kita akan melakukan hal terbaik yang  bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebutuhan yang kita inginkan. dan ketika kita telah berhasil mendapatkan apa yang kita butuhkan, sebenarnya kita telah memenuhi satu atau lebih dari lima kebutuhan dasar manusia tersebut diatas.

5. Posisi Kontrol Restitusi

Ketika kita berusaha menanamkan nilai kedisiplinan pada murid, manakah kelima posisi kontrol berikut yang sering kita pakai?

a. Penghukum?

b. Pembuat rasa bersalah?

c. Pemantau?

d. Teman? atau

e. Manajer?

Dalam Budaya Positif, Kita diharapkan untuk bisa menjadi Manajer dalam menanamkan disiplin pada murid. Pada posisi ini guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Seorang manajer telah memiliki keterampilan di posisi teman maupun pemantau, dan dengan demikian, bisa jadi di waktu-waktu tertentu kembali kepada kedua posisi tersebut bila diperlukan. Namun bila kita menginginkan murid-murid kita menjadi manusia yang merdeka, mandiri dan bertanggung jawab, maka kita perlu mengacu kepada Restitusi yang dapat menjadikan murid kita seorang manajer bagi dirinya sendiri. Di manajer, murid diajak untuk menganalisis kebutuhan dirinya, maupun kebutuhan orang lain. Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada.

6. Keyakinan Kelas

Pembentukan Keyakinan Sekolah/Kelas:

• Keyakinan kelas bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit.

• Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal.

• Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif.

• Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.

• Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut.

• Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas lewat kegiatan curah pendapat.

• Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

7. Segitiga Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004)

Restitusi juga adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).

Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai.

langkah-langkah segitiga restitusi seperti berikut;




Dokumentasi Penerapan Budaya Positif

1. Membuat Keyakinan kelas






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menyebarkan Pemahaman dan Pengalaman Penerapan Budaya Positif

  Menyebarkan Pemahaman dan Pengalaman Penerapan Budaya Positif Latar Belakang Seringkali saya mendeskripsikan bahwa kedisiplinan adalah sua...